Aku rasa, aku memang benar benar melupakan sesuatu... tapi apa??
Sekembalinya dari taman (?), aku dan Jung-Ah kembali ke kelas, Key dan kedua teman barunya sudah kembali dari kantin, bersama anak lelaki yang tadi masuk ke kelas ku.
Mereka terlihat sedang bergurau, Eun Hee sendiri terlihat sangat tertanggu dengan kebisingan mereka. Terutama pandangannya tidak berpaling dari anak lelaki yang tadi pagi datang kekelasku. Apakah Eun Hee sudah mengenalnya secara pribadi, atau dia memang memperhatikan lelaki itu?? Senyumannya memang membuat orang ingin melihatnya.
“Seulhwa! Kemarilah, sini berkenalan dengan teman baruku”, Key mengajakku bergabung dengan teman-temannya. Aku hanya senyum sambil membuang pandanganku keluar kelas.
Tiba-tiba ia malah menarikku, dan benar, aku tidak tahu harus berbuat apa... Key! Awas kau nanti.
“a-annyeong, jonen Seulhwa imnida”, kataku sambil menunduk.
“bahasanya formal sekali”, kata anak laki-laki yag tidak aku tahu namanya itu.
“dia memang begitu, sopan bukan??”, lanjut Key.
“ne, sangat malah”, lanjutnya.
“oh ya, aku Onew”, katanya sambil melambaikan tangan dan kembali dengan senyumannya. Aku hanya membalas dengan senyuman dan kembali duduk.
“tunggu, kau belum berkenlan denganku”. Apa maksudnya?? Ini membuatku semakin malu~.
“tapi kan... kau sudah tahu namaku”, lanjutku.
“apa kau sudah tahu namaku?”, omo~ apa orang ini minta dibunuh?
“Jo-Jonghyun kan?”, aku langsung kembali ketempatku. Eun Hee tertawa kecil melihat tingkanhku.
“oh iya! Aku lupa, ini Eun Hee, sahabatku”, Key memandangku, rasanya aku ingin bilang ‘ah ara~ ini caramu mengalihkan perhatian, gomapta!’.
“Joayo”, kata Onew.
“ne??”, aku dan Eun Hee sama-sama terkejut. Aiigo~ di bilang Eun Hee ‘joayo’. Apa maksudnya??.
“Seulhwa, kau tekejut rupanya”, Key mencubit pipiku.
“kekekeke~ apakah perkataanku aneh?”, dengan wajah innocent Onew berkata seperti itu. Wajah Eun Hee berubah menjadi merah, ia melanjutkan membaca buku.
“Seulhwa-ssi!!”, dari luar ada yang teriak memanggil namaku.
Teryata itu Hara oenni dan Suzy oenni. Omo omo omo!! Aku lupa harus bertemu mereka di perpustakaan, mianhae oenni.
“ya! Kami sudah lama menunggumu, kenapa tidak datang juga?”, Suzy oenni masuk kekelas dan menarikku.
“mian, jeongmal mianhae oenni, aku lupa, sama sekali lupa”.
“sebentar lagi bel masuk, ayo kita harus cepat!”, oenni sibuk memperhatikan langkahnya, sementara aku sibuk memperhatikan pandangan Hara oenni, dia melihat ke arah Key dan teman-teman barunya, apakah oenni suka salah satu diantara mereka??
“ya! Hara Goo, apa yang kau lihat? Kita harus cepat!”, Suzy oenni menarik tangan Hara oenni.
Oenni pun memaksa ku untuk menuggu Taemin didepan kelasnya, tadinya memang tidak mau menunggu disini, tapi karena sebentar lagi bel masuk. Pasti Taemin akan masuk kekelas sebentar lagi.
“nah, itu dia!”, aku menunjuk lelaki yang kusebut ‘Lee Taemin’.
Hara oenni menunjukkan wajah serius, sepertinya dia ingin menghapalkan wajah Taemin. Suzy oenni pun terlihat... ‘amazingly’ melihat Taemin.
“oenni, apa ada yang salah?”, tanyaku pada Suzy oenni.
“ah, ane Seulhwa ... tapi sejujrnya, naega...joa”, katanya.
“ne??”.
“aku suka~ wajahnya~ penampilannya~ joa joa joa! Mianhae Seulhwa”, Suzy oenni berkata seperti itu.
Aku hanya terbengong mendengar ucapannya, bagaimana bisa...oenni baru sekali melihat Taemin langsung bicara seperti itu... oenni, aku benar benar ingin pindah sekolah!!!
“Seulhwa, lebih baik kau ke kelas sekarang, aku akan mengantarmu”, Hara oenni mencoba mengalihkan perhatian.
“ah, tidak usah...aku bisa sendiri, maaf sudah membuat kalian menunggu lama, annyeong~”, aku menundukkan kepala dan lari menuju kelas.
Aku lari tanpa memerhatikan sekitar, babo babo babo!!!!!!!! Baboooooooooooo!!!
Kurasa airmata ku menetes keluar, entah kenapa, aku ingin menghentikannya tapi...kenapa ini terus keluar?? Apa yang harus kutangisi?? Wajar kalau Suzy oenni suka Taemin, itu haknya, tapi... kenapa aku tidak suka kalau dia juga suka pada Taemin??
“Seulhwa?! Wae??”, Key lari menuju tempat dudukku disusul Eun Hee.
“mo-molla molla molla~”, aku menangis terisak.
“Gwencana, jeongmal, gwencana”, Key memelukku kencang, pertanda menyuruhku tenang.
“ada apa dengannya?”, tiba-tiba aku adi pusat perhatian.
“aneyong~ tadi dia terjatuh”, Eun Hee mengalihkan pusat perhatian.
“apa kau melihat’nya’??”, Key tiba-tiba berkata seperti itu.
“n-ne! Tapi...tapi... aku mau ke UKS sekarang~”, entah kenapa mulutku tiba-tia ingin bicara seperti itu.
“ne?? Baiklah, ayo kita ke UKS”, Key memapahku, didampingi Eun Hee. Jung-Ah, mana dia?? Kenapa disaat seperti ini Jung-Ah malah tidak ada??
Entah kenapa badanku lemas... apakah penyakitku kambuh lagi?? Uhh, ini bukan saat yang tepat untuk kambuh.
“wae?”, Eun Hee semakin erat memegangku.
“apakah penyakitmu kambuh Seulhwa??”, Key menghentikan langkahnya.
“aku rasa...”.
Dia tidak lagi mencoba memapahku, tapi menggendongku tepat dipundaknya, setelah itu.... aku benar benar tidak kuat lagi, mataku memaksa untuk tertutup. Key, mianhae merepotkanmu jeongmal aku tidak sanggup.
~ ~ ~
“Seulhwa, gwencana?”, Key berada disebelahku, tahu-tahu aku sudah terbaring lemas di ruang UKS.
“mana Eun Hee?”, tanyaku.
“dia kembali ke kelas, tidak mungkin dua orang menunggu disini…cukup satu, aku juga yakin kalau ada dia belum tentu kau mau cerita padaku”, lanjutnya, sambil mengambilkan segelas teh hangat.
“ini, minumlah”, dia menyguhkanku minum. “malleba”, lanjutnya.
“mwo?”.
“sebenarnya ada apa? Kau tidak mungkin begini kalau bukan karena terkejut oleh sesuatu”, Key langsung to the point bertanya seperti itu, aku tahu…aku pasti tidak akan bisa membohonginya.
“naega… naega… naega…”, entah kenapa aku tidak bias melanjutan kata-kataku.
“BABO!”, balas Key. “ya! Park Seulhwa naneun babo-ya”, Key melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa aku tenang kalau ia bicara begitu. Tiba-tiba aku menggigit bibir bawahku, air mata rasaya sudah tergenang dimataku, badanku semakin lemas, aku…benar-benar tidak bias berkata apa-apa lagi.
“n-e! babo-ya!”…
Dia memelukku hangat, tertengar ia membisikkanku ‘menangislah selagi kau bisa menangis’. Aku tidak ingin melepaskan pelukannya, aku memang sangat membutuhkan Key… jujur aku memang sayang pada Key tapi tidak sebagai pasangan hidup, maafkan aku.
Suaraku semakin bergetar, aku merasa tangisanku semakin kencang. Aku benar benar tidak kuat~ kenapa manusia diciptakan saling berpasangan dan mempunyai rasa satu sama lain?? Tidakkah ini menyakitkan bagi yang berlawanan rasa?? Kenapa aku harus dipertemukan oleh orang-orang yang selalu membuatku menangis??
Aku mencengkram bahu lelaki itu dengan sangat kencang, aku benar benar tidak kuat!! Semakin kencang kugigit bibir bawahku ini, tidak ingin mengeluarkan suara lepasku saat menangis
Key, mungkin kau memang satu satunya orang yang mengerti ku… mulai sekarang, aku akan mencoba memberikan hatiku untukmu, dan melupakan Taemin. Aish! Padahal baru saja kubilang aku tidak bisa menerimanya sebagai pasangan, segitukah ke-labil-an-ku??
Memang, munkin aku terlalu naif dan egois dalam hal ini, tapi aku harus mencoba, aku tahu aku pasti bisa, di dunia ini bukan hanya Taemin seorang, aku tidak ingin di masa remaja ku yang seperti ini bewarna putih abu-abu, aku harus punya warna lain... aku tidak ingin selalu menjadi aku yang seperti ini.
“Seulhwa?”, tanya Key lembut.
“ne...?”, aku berbalik tanya.
“ah ane, gwencana~”, ia melepaskan pelukannya.
“Ki Bum-ssi”.
“aku senang kau memanggilku Key, berhentilah memanggilku Ki Bum”, katanya, sambil menghapus air matakuu perlahan.
“Key... mianhae”.
“ne?”, ia berhenti mengusap air mataku. “apa aku berbuat sesuatu yang salah?”.
“ane ane! Bukan itu... maksudku, jeongmal mianhae, kau terlalu baik untukku, aku juga belum memberi mu kesempatan lagi semenjak kita putus, maukah...”, aku belum selesai bicara, ia langsung memelukku kembali.
“tolong jangan ucapkan itu, atau aku tidak akan melepasmu... saranghae Seulhwa”, ia mecium telunjuk dan jari tengahnya, lalu diletakkan ke dahiku. Aku benar benar tidak punya tanggapan dan ekspresi.
“Seulhwa?”, ada seseorang masuk ke ruang UKS, dan ternyata...
“Taemin-na? Apa yang kau lakukan disini?”, sapaku.
“ane, aku hanya...ingin mengambil alkohol, teman sekelasku terluka, kau sendiri?”, katanya, sambil sibuk mencari alkohol.
“apa kau tidak lihat? Dia sedang sakit”, jawab Key ketus.
“kau siapa?”.
“dia Key...”.
“aku pacarnya Seulhwa”, Key berkata sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“pacar? Seuhwa kau punya pacar?”, Taemin terdiam sejenak melihat kami berdua, otokkee?? Aku tidak bisa bicara apa-apa.
“otoke? Kau baru mengenalnya dan langsung menerimanya menjadi pacarmu? Apa kau gila?”, Taemin sedikit menggretakku, apa maksudnya?!.
“ya! Siapa bilang kami baru kenal! Aku sudah jauh lebih lama mengenal Seulhwa kebanding dirimu! Kami sudah saling mengenal sejak SD, ayahnya...”,
“apa itu penting bagiku? Memang dia siapa? Temanku saja bukan”, Taemin langsung keluar dan menutup pintu.
Seperti biasa... sifatnya diingin sekali, susah bilang ‘aku peduli’, aku tidak tahu kemana jalan pikirannya, sedingin itukah dia padaku? Padahal dulu kami teman akrab. Mungkin aku memang benar benar gila bisa menyukai Taemin, sudahlah~ hari ini lebih baik ku akhiri semua.
“Key, mau mengantarku pulang?”, tanyaku lembut.
“sekarang? Tapi satu jam lagi bel pulang, apa kau yakin?”.
“ne, temani aku. Dirumah tidak ada siapa-siapa, oenni pasti akan pulang malam, karena besok oemma dan appa pulang, jadi ia harus belanja”, aku melepaskan selimut dan memakai sepatu.
“memang ommoni kemana?”.
“ada, tapi oenni bilang, appa melarang oenni untuk menyuruh ommoni, aku juga tidak tahu”.
“oh, baiklah. aku akan telepon ajussi, biar dia yang menyetir, aku tidak bawa kendaraan hari ini”, kebetulan Key memang sudah mengenal ajussi.
Aku benar benar beruntung bisa mengenal Key, sungguh orang yang baik. Dia memapahku keluar, Eun Hee ternyata sudah meminta surat izin dari saat aku terbaring di UKS, dia juga orang yang baik walaupun anaknya sedikit aneh ^^,
Tak menunggu terlalu lama, ajussi pun datang, terlihat tergesa-gesa menyetir mobil. Apa dia juga khawatir?
“noona, gwencana? Apa yang terjadi?”, ajussi membukakan pintu belakang.
“ajussi, sakitnya kambuh”, sambung Key sambil memapahku masuk ke mobil.
“ne?? Noona, apa lebih baik kita ke dokter sekarang?”.
“ane! Gwencanayo~ aku hanya butuh istirahat”, ajussi hanya mengangguk, ia tahu kalau aku tidak bisa dipaksa.
Dimobil aku bingung mau bilang apa, mau cerita dengan Key tapi ada ajussi, tapi kalau terus terusan diam begini rasanya aneh.
“Seulhwa, apa kau mau donat?”, Key tiba-tiba membuka pembicaraan seolah bisa membaca pikiranku.
“donat? joayo”, sahutku sambil menatap matanya.
“ajussi, tolong mampir ke bakery sebentar, nanti tolong belikan kami donat”, Key mengeluarkan uang dari kantongnya.
“ne”.
~ ~ ~
Sesampainya dirumah, nafasku menjadi lebih teratur kebanding tadi, bantal kesayanganku sepertinya sudah memanggilku untuk tidur, ingin cepat cepat berbaring dikasur rasanya.
Key ikut bersamaku ke atas, entah dia mau menunggu sampai oenni datang atau hanya sekedar mengantarkan ku.
Tapi kurasa... ia memang benar-benar menunggu sampai oenni datang.
“Key?”, kataku sambil meraih selimut.
“ne?”, ia menggeret bangku tepat disamping tempat tidurku. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.
“haruskah aku tinggalkan kau sendiri disini?”, ia sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
“temani aku sampai oenni datang~”, aku meraih tangannya. Entah kenapa aku benar-benar merasa butuh Key sekarang, aku juga merasa... sekarang aku jauh lebih manja kepadanya.
Ia hanya terenyum lepas, aku membuang pandangannya, aku tidak ingin melihat senyumannya yang tulus itu, biarkan aku tidak melihatnya. Ia kembali duduk dan membuka donat yang tadi dibeli, ia mengambil donat dan mencoba menyuapiku, tapi aku menolaknya.
“aku bisa makan sendiri”.
Ia mengambil satu donat lagi dan membukanya, lalu mulai memakannya bersama denganku. Dia benar benar tahu situasi, disaat aku bingung pasti dia membelikanku donat, disaat aku menangis pasti ia membelikanku coklat, disaat aku senang pasti ia membelikanku es krim. Benar-benar tahu posisiku, belum pernah ada orang yang seperhatian ini padaku, kekekeke.
“apa... kau mau memberikan ku kesempatan sekali lagi?”, katanya tiba-tiba.
“ne?” aku masih mencerna kata-kata nya... oh iya aku ingat ucapanku di UKS tadi, aku tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, maka aku menjawab...”ne!”.
“jeongmal?” ia meletakkan donatnya diatas meja, dan meraih keningku. Aku hanya bisa menutup mata tanpa memberontak, entah kenapa jantungku berdetak kencang dan tanganku tidak bisa bergerak. Mulutku pun serasa terkunci.
Setelah aku tersadar wajahnya begitu dekat denganku, bibirnya menempel di keningku, oemma otokkeeeee???? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!
Saat aku kembali memejamkan mata, bibirnya sudah tidak lagi berada dikeningku.
“Seulhwa, apa kau terkejut?”, katanya sambil tersenyum.
“tentu saja! Oenni tidak pernah melakukan itu padaku... dan kau tiba-tiba...”, huaaaaa aku tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi.
“mencium keningmu? Itu baru kening, bagaimana kalau...”, dia mulai menggodaku.
“aiigooo! Kau itu sebenarnya siapa Kim Ki Bum?? Kau benar-benar sudah membuatku takut!!”, aku menutup wajahku dengan selimut, tidak ingin ia melihat wajahku, pasti merah.
“aegyo~ aegyo~”, ia mengelus-elus rambutku.
-To Be Continued-
◊ ◊ ◊











2 komentar:
KEREN BANGET MOM!!!! LANJUTKAN!!!
gomawooooo~
iya, gue lanjutin kok :D
Posting Komentar