Annyeong Chingu !! ^^


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Rabu, 01 Juni 2011

Love in Love (part III)



Aku rasa, aku memang benar benar melupakan sesuatu... tapi apa??
Sekembalinya dari taman (?), aku dan Jung-Ah kembali ke kelas, Key dan kedua teman barunya sudah kembali dari kantin, bersama anak lelaki yang tadi masuk ke kelas ku.
Mereka terlihat sedang bergurau, Eun Hee sendiri terlihat sangat tertanggu dengan kebisingan mereka. Terutama pandangannya tidak berpaling dari anak lelaki yang tadi pagi datang kekelasku. Apakah Eun Hee sudah mengenalnya secara pribadi, atau dia memang memperhatikan lelaki itu?? Senyumannya memang membuat orang ingin melihatnya.

“Seulhwa! Kemarilah, sini berkenalan dengan teman baruku”, Key mengajakku bergabung dengan teman-temannya. Aku hanya senyum sambil membuang pandanganku keluar kelas.
Tiba-tiba ia malah menarikku, dan benar, aku tidak tahu harus berbuat apa... Key! Awas kau nanti.
“a-annyeong, jonen Seulhwa imnida”, kataku sambil menunduk.
“bahasanya formal sekali”, kata anak laki-laki yag tidak aku tahu namanya itu.
“dia memang begitu, sopan bukan??”, lanjut Key.
“ne, sangat malah”, lanjutnya.
“oh ya, aku Onew”, katanya sambil melambaikan tangan dan kembali dengan senyumannya. Aku hanya membalas dengan senyuman dan kembali duduk.
“tunggu, kau belum berkenlan denganku”. Apa maksudnya?? Ini membuatku semakin malu~.
“tapi kan... kau sudah tahu namaku”, lanjutku.
“apa kau sudah tahu namaku?”, omo~ apa orang ini minta dibunuh?
“Jo-Jonghyun kan?”, aku langsung kembali ketempatku. Eun Hee tertawa kecil melihat tingkanhku.
“oh iya! Aku lupa, ini Eun Hee, sahabatku”, Key memandangku, rasanya aku ingin bilang ‘ah ara~ ini caramu mengalihkan perhatian, gomapta!’.
“Joayo”, kata Onew.
“ne??”, aku dan Eun Hee sama-sama terkejut. Aiigo~ di bilang Eun Hee ‘joayo’. Apa maksudnya??.
“Seulhwa, kau tekejut rupanya”, Key mencubit pipiku.
“kekekeke~ apakah perkataanku aneh?”, dengan wajah innocent Onew berkata seperti itu. Wajah Eun Hee berubah menjadi merah, ia melanjutkan membaca buku.
“Seulhwa-ssi!!”, dari luar ada yang teriak memanggil namaku.
Teryata itu Hara oenni dan Suzy oenni. Omo omo omo!! Aku lupa harus bertemu mereka di perpustakaan, mianhae oenni.
“ya! Kami sudah lama menunggumu, kenapa tidak datang juga?”, Suzy oenni masuk kekelas dan menarikku.
“mian, jeongmal mianhae oenni, aku lupa, sama sekali lupa”.
“sebentar lagi bel masuk, ayo kita harus cepat!”, oenni sibuk memperhatikan langkahnya, sementara aku sibuk memperhatikan pandangan Hara oenni, dia melihat ke arah Key dan teman-teman barunya, apakah oenni suka salah satu diantara mereka??
“ya! Hara Goo, apa yang kau lihat? Kita harus cepat!”, Suzy oenni menarik tangan Hara oenni.

Oenni pun memaksa ku untuk menuggu Taemin didepan kelasnya, tadinya memang tidak mau menunggu disini, tapi karena sebentar lagi bel masuk. Pasti Taemin akan masuk kekelas sebentar lagi.
“nah, itu dia!”, aku menunjuk lelaki yang kusebut ‘Lee Taemin’.
Hara oenni menunjukkan wajah serius, sepertinya dia ingin menghapalkan wajah Taemin. Suzy oenni pun terlihat... ‘amazingly’ melihat Taemin.
“oenni, apa ada yang salah?”, tanyaku pada Suzy oenni.
“ah, ane Seulhwa ... tapi sejujrnya, naega...joa”, katanya.
“ne??”.
“aku suka~ wajahnya~ penampilannya~ joa joa joa! Mianhae Seulhwa”, Suzy oenni berkata seperti itu.
Aku hanya terbengong mendengar ucapannya, bagaimana bisa...oenni baru sekali melihat Taemin langsung bicara seperti itu... oenni, aku benar benar  ingin pindah sekolah!!!
“Seulhwa, lebih baik kau ke kelas sekarang, aku akan mengantarmu”, Hara oenni mencoba mengalihkan perhatian.
“ah, tidak usah...aku bisa sendiri, maaf sudah membuat kalian menunggu lama, annyeong~”, aku menundukkan kepala dan lari menuju kelas.
Aku lari tanpa memerhatikan sekitar, babo babo babo!!!!!!!! Baboooooooooooo!!!

Kurasa airmata ku menetes keluar, entah kenapa, aku ingin menghentikannya tapi...kenapa ini terus keluar?? Apa yang harus kutangisi?? Wajar kalau Suzy oenni suka Taemin, itu haknya, tapi... kenapa aku tidak suka kalau dia juga suka pada Taemin??
“Seulhwa?! Wae??”, Key lari menuju tempat dudukku disusul Eun Hee.
“mo-molla molla molla~”, aku menangis terisak.
“Gwencana, jeongmal, gwencana”, Key memelukku kencang, pertanda menyuruhku tenang.
“ada apa dengannya?”, tiba-tiba aku adi pusat perhatian.
“aneyong~ tadi dia terjatuh”, Eun Hee mengalihkan pusat perhatian.
“apa kau melihat’nya’??”, Key tiba-tiba berkata seperti itu.
“n-ne! Tapi...tapi... aku mau ke UKS sekarang~”, entah kenapa mulutku tiba-tia ingin bicara seperti itu.
“ne?? Baiklah, ayo kita ke UKS”, Key memapahku, didampingi Eun Hee. Jung-Ah, mana dia?? Kenapa disaat seperti ini Jung-Ah malah tidak ada??
Entah kenapa badanku lemas... apakah penyakitku kambuh lagi?? Uhh, ini bukan saat yang tepat untuk kambuh.
“wae?”, Eun Hee semakin erat memegangku.
“apakah penyakitmu kambuh Seulhwa??”, Key menghentikan langkahnya.
“aku rasa...”.
Dia tidak lagi mencoba memapahku, tapi menggendongku tepat dipundaknya, setelah itu.... aku benar benar tidak kuat lagi, mataku memaksa untuk tertutup. Key, mianhae merepotkanmu jeongmal aku tidak sanggup.
~             ~           ~
“Seulhwa, gwencana?”, Key berada disebelahku, tahu-tahu aku sudah terbaring lemas di ruang UKS.
“mana Eun Hee?”, tanyaku.
“dia kembali ke kelas, tidak mungkin dua orang menunggu disini…cukup satu, aku juga yakin kalau ada dia belum tentu kau mau cerita padaku”, lanjutnya, sambil mengambilkan segelas teh hangat.
“ini, minumlah”, dia menyguhkanku minum. “malleba”, lanjutnya.
“mwo?”.
“sebenarnya ada apa? Kau tidak mungkin begini kalau bukan karena terkejut oleh sesuatu”, Key langsung to the point bertanya seperti itu, aku tahu…aku pasti tidak akan bisa membohonginya.
“naega… naega… naega…”, entah kenapa aku tidak bias melanjutan kata-kataku.
“BABO!”, balas Key. “ya! Park Seulhwa naneun babo-ya”, Key melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa aku tenang kalau ia bicara begitu. Tiba-tiba aku menggigit bibir bawahku, air mata rasaya sudah tergenang dimataku, badanku semakin lemas, aku…benar-benar tidak bias berkata apa-apa lagi.
“n-e! babo-ya!”…
Dia memelukku hangat, tertengar ia membisikkanku ‘menangislah selagi kau bisa menangis’.  Aku tidak ingin melepaskan pelukannya, aku memang sangat membutuhkan Key… jujur aku memang sayang pada Key tapi tidak sebagai pasangan hidup, maafkan aku.
Suaraku semakin bergetar, aku merasa tangisanku semakin kencang. Aku benar benar tidak kuat~ kenapa manusia diciptakan saling berpasangan dan mempunyai rasa satu sama lain?? Tidakkah ini menyakitkan bagi yang berlawanan rasa?? Kenapa aku harus dipertemukan oleh orang-orang yang selalu membuatku menangis??
Aku mencengkram bahu lelaki itu dengan sangat kencang, aku benar benar tidak kuat!! Semakin kencang kugigit bibir bawahku ini, tidak ingin mengeluarkan suara lepasku saat menangis
Key, mungkin kau memang satu satunya orang yang mengerti ku… mulai sekarang, aku akan mencoba memberikan hatiku untukmu, dan melupakan Taemin. Aish! Padahal baru saja kubilang aku tidak bisa menerimanya sebagai pasangan, segitukah ke-labil-an-ku??
Memang, munkin aku terlalu naif dan egois dalam hal ini, tapi aku harus mencoba, aku tahu aku pasti bisa, di dunia ini bukan hanya Taemin seorang, aku tidak ingin di masa remaja ku yang seperti ini bewarna putih abu-abu, aku harus punya warna lain... aku tidak ingin selalu menjadi aku yang seperti ini.
“Seulhwa?”, tanya Key lembut.
“ne...?”, aku berbalik tanya.
“ah ane, gwencana~”, ia melepaskan pelukannya.
“Ki Bum-ssi”.
“aku senang kau memanggilku Key, berhentilah memanggilku Ki Bum”, katanya, sambil menghapus air matakuu perlahan.
“Key... mianhae”.
“ne?”, ia berhenti mengusap air mataku. “apa aku berbuat sesuatu yang salah?”.
“ane ane! Bukan itu... maksudku, jeongmal mianhae, kau terlalu baik untukku, aku juga belum memberi mu kesempatan lagi semenjak kita putus, maukah...”, aku belum selesai bicara, ia langsung memelukku kembali.
“tolong jangan ucapkan itu, atau aku tidak akan melepasmu... saranghae Seulhwa”, ia mecium telunjuk dan jari tengahnya, lalu diletakkan ke dahiku. Aku benar benar tidak punya tanggapan dan ekspresi.
“Seulhwa?”, ada seseorang masuk ke ruang UKS, dan ternyata...
“Taemin-na? Apa yang kau lakukan disini?”, sapaku.
“ane, aku hanya...ingin mengambil alkohol, teman sekelasku terluka, kau sendiri?”, katanya, sambil sibuk mencari alkohol.
“apa kau tidak lihat? Dia sedang sakit”, jawab Key ketus.
“kau siapa?”.
“dia Key...”.
“aku pacarnya Seulhwa”, Key berkata sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“pacar? Seuhwa kau punya pacar?”, Taemin terdiam sejenak melihat kami berdua, otokkee?? Aku tidak bisa bicara apa-apa.
“otoke? Kau baru mengenalnya dan langsung menerimanya menjadi pacarmu? Apa kau gila?”, Taemin sedikit menggretakku, apa maksudnya?!.
“ya! Siapa bilang kami baru kenal! Aku sudah jauh lebih lama mengenal Seulhwa kebanding dirimu! Kami sudah saling mengenal sejak SD, ayahnya...”,
“apa itu penting bagiku? Memang dia siapa? Temanku saja bukan”, Taemin langsung keluar dan menutup pintu.
Seperti biasa... sifatnya diingin sekali, susah bilang  ‘aku peduli’, aku tidak tahu kemana jalan pikirannya, sedingin itukah dia padaku? Padahal dulu kami teman akrab. Mungkin aku memang benar benar gila bisa menyukai Taemin, sudahlah~ hari ini lebih baik ku akhiri semua.
“Key, mau mengantarku pulang?”, tanyaku lembut.
“sekarang? Tapi satu jam lagi bel pulang, apa kau yakin?”.
“ne, temani aku. Dirumah tidak ada siapa-siapa, oenni pasti akan pulang malam, karena besok oemma dan appa pulang, jadi ia harus belanja”, aku melepaskan selimut dan memakai sepatu.
“memang ommoni kemana?”.
“ada, tapi oenni bilang, appa melarang oenni untuk menyuruh ommoni, aku juga tidak tahu”.
“oh, baiklah. aku akan telepon ajussi, biar dia yang menyetir, aku tidak bawa kendaraan hari ini”, kebetulan Key memang sudah mengenal ajussi.
Aku benar benar beruntung bisa mengenal Key, sungguh orang yang baik. Dia memapahku keluar, Eun Hee ternyata sudah meminta surat izin dari saat aku terbaring di UKS, dia juga orang yang baik walaupun anaknya sedikit aneh ^^,
Tak menunggu terlalu lama, ajussi pun datang, terlihat tergesa-gesa menyetir mobil. Apa dia juga khawatir?
“noona, gwencana? Apa yang terjadi?”, ajussi membukakan pintu belakang.
“ajussi, sakitnya kambuh”, sambung Key sambil memapahku masuk ke mobil.
“ne?? Noona, apa lebih baik kita ke dokter sekarang?”.
“ane! Gwencanayo~ aku hanya butuh istirahat”, ajussi hanya mengangguk, ia tahu kalau aku tidak bisa dipaksa.
Dimobil aku bingung mau bilang apa, mau cerita dengan Key tapi ada ajussi, tapi kalau terus terusan diam begini rasanya aneh.
“Seulhwa, apa kau mau donat?”, Key tiba-tiba membuka pembicaraan seolah bisa membaca pikiranku.
“donat? joayo”, sahutku sambil menatap matanya.
“ajussi, tolong mampir ke bakery sebentar, nanti tolong belikan kami donat”, Key mengeluarkan uang dari kantongnya.
“ne”.
~             ~           ~
Sesampainya dirumah, nafasku menjadi lebih teratur kebanding tadi, bantal kesayanganku sepertinya sudah memanggilku untuk tidur, ingin cepat cepat berbaring dikasur rasanya.
Key ikut bersamaku ke atas, entah dia mau menunggu sampai oenni datang atau hanya sekedar mengantarkan ku.
Tapi kurasa... ia memang benar-benar menunggu sampai oenni datang.
“Key?”, kataku sambil meraih selimut.
“ne?”, ia menggeret bangku tepat disamping tempat tidurku. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.
“haruskah aku tinggalkan kau sendiri disini?”, ia sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
“temani aku sampai oenni datang~”, aku meraih tangannya. Entah kenapa aku benar-benar merasa butuh Key sekarang, aku juga merasa... sekarang aku jauh lebih manja kepadanya.
Ia hanya terenyum lepas, aku membuang pandangannya, aku tidak ingin melihat senyumannya yang tulus itu, biarkan aku tidak melihatnya. Ia kembali duduk dan membuka donat yang tadi dibeli, ia mengambil donat dan mencoba menyuapiku, tapi aku menolaknya.
“aku bisa makan sendiri”.
Ia mengambil satu donat lagi dan membukanya, lalu mulai memakannya bersama denganku. Dia benar benar tahu situasi, disaat aku bingung pasti dia membelikanku donat, disaat aku menangis pasti ia membelikanku coklat, disaat aku senang pasti ia membelikanku es krim. Benar-benar tahu posisiku, belum pernah ada orang yang seperhatian ini padaku, kekekeke.
“apa... kau mau memberikan ku kesempatan sekali lagi?”, katanya tiba-tiba.
“ne?” aku masih mencerna kata-kata nya... oh iya aku ingat ucapanku di UKS tadi, aku tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, maka aku menjawab...”ne!”.
“jeongmal?” ia meletakkan donatnya diatas meja, dan meraih keningku. Aku hanya bisa menutup mata tanpa memberontak, entah kenapa jantungku berdetak kencang dan tanganku tidak bisa bergerak. Mulutku pun serasa terkunci.
Setelah aku tersadar wajahnya begitu dekat denganku, bibirnya menempel di keningku, oemma otokkeeeee???? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!
Saat aku kembali memejamkan mata, bibirnya sudah tidak lagi berada dikeningku.
“Seulhwa, apa kau terkejut?”, katanya sambil tersenyum.
“tentu saja! Oenni tidak pernah melakukan itu padaku... dan kau tiba-tiba...”, huaaaaa aku tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi.
“mencium keningmu? Itu baru kening, bagaimana kalau...”, dia mulai menggodaku.
“aiigooo! Kau itu sebenarnya siapa Kim Ki Bum?? Kau benar-benar sudah membuatku takut!!”, aku menutup wajahku dengan selimut, tidak ingin ia melihat wajahku, pasti merah.
“aegyo~ aegyo~”, ia mengelus-elus rambutku.
-To Be Continued-
◊             ◊           ◊






Sabtu, 21 Mei 2011

-fanfic- LOVE IN LOVE (part 2)



Hari ini rasanya kepalaku mau pecah! Kusuruh ommoni membuatkan lemon squash untuk mendinginkan kepalaku ini, aku berharap Ji Yeon eonni cepat pulang. Ingin kuceritakan semua kepenatanku ini.
Dari dalam terdengar suara ribut, kurasa itu oenni dan teman-temannya
“Annyeong! Seulhwa, bagaimana sekolahmu??”, tiba-tiba Suzy, teman oenni memelukku dari belakang.
“Yahhh, begitulah! Melelahkan dan menyedihkan”, jawabku sambil melepas pelukannya.
“Pasti banyak kejadian menarik yaaaa?? Ceritakan kepadaku”, lanjutnya.
“Seulhwa, ini kubawakan sesuatu untukmu”, Ji Yeon oenni mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
“JEONGMAL??!”, kataku sedikit terkejut.
“Ne, itu uang tabunganku selama seminggu, termasuk uang kedua sahabat gilaku ini”, katanya sambil memegang pundakku
“ulang tahunmu minggu lalu...kami belum memberikan apa-apa kan?? Walaupun memang Cuma ini, tapi hargai ya”, kata Hara oenni, sifatnya memang cuek dan blak-blakkan.
“Ne, gomawo gomawo gomawo!!”, kataku sambil menundukkan badan.
“chonmane baby!! Everything for you!!”, Suzy oenni mulai mengeluarkan sifat ‘lebay’ nya.
“Kekeke, jeongmal gomapta!”, aku memeluknya kencang.
“Oke, sebagai balasannya, ceritakan bagaimana dengan sekolahmu yang baru?? Kau jadi adik kelasku sekarang. Kalau ada apa-apa, laporkan saja padaku atau Hara”, katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ne! aku baru ingat, kekeke~ walaupun Ji Yeon oenni tidak satu sekolah denganku, tapi ada kalian”. “Hari ini tidak ada yang special, bahkan hari tersial aku rasa”, lanjutku.
“Memangnya ada kejadian apa?”, Hara oenni terlihat penasaran.
“Mantan pacarku satu sekolah denganku, bertemu dengan dua lelaki aneh, dan…satu sekolah lagi dengan Lee Taemin”, kataku sambil menunduk.
“Jeongmall?? Lalu bagaimana?”, Ji Yeon oenni terlihat kaget.
“Aish, molla oenni~”, kataku sambil mengacak-acak rambut.
“Nggg…aku bisa membantumu, tapi aku harus tahu, yang mana Lee Taemin. Besok istirahat kutunggu di depan perpustakaan. Oke! Sepertinya sudah mulai sore, hari ini aku magang, annyeong~”, setelah melihat jam, Hara oenni meninggalkan kamarku. Tanpa banyak basa-basi langsung meninggalkan kamar.
“Ne, aku juga akan membantumu, bye~!! Hara! Tunggu aku~!!”, Suzy oenni cepat-cepat mengambil tas dan menyusul Hara oenni.
“Sayangnya aku tidak satu sekolah denganmu, beruntunglah kau dan aku mengenal mereka berdua. Aku mau mandi dulu, nanti malam kita cerita-cerita lagi ya”.
~       ~          ~
Sekarang baru pukul Sembilan malam, aku masih belum bisa tidur, mengingat kejadian tadi di sekolah, oenni terlihat masih mengerjakan PR nya,dia berjanji ingin mendengarkan ceritaku setelah ia selesai mandi…ternyata masih harus mengerjakan PR, aku bosaaaan ><
Dddrrrrrtttt! Dddrrrttt! Ponselku bergetar.
Seulhwa, ini aku, Eunhee
Tolong disimpan ya nomorku, kalau ada apa-apa, ceritalah padaku
Annyeong J

Ternyata Eunhee, Ki Bum pasti telah meberikan nomorku padanya…aku senang bisa bertemu orang macam Eunhee ^^,  walaupun terlihat ketus..sama seperti sahabatnya (Ki Bum), tapi dia terlihat baik dan terusterang. Rasanya aku semakin ingin mengenalnya lebih jauh.
Kebetulan aku juga tipe orang yang tidak suka bertele-tele, cocoklah aku dengannya. Langsung straight to the point kalau ada apa-apa.
“Seulhwa, apa kau tidak ada PR?”, kata oenni sambil membolak-balik bukunya.
“Ane, ini hari pertama sekolah oenni. Mana mungkin ada PR”, kataku sambil menyalakan TV.
“Oh iya aku lupa, chakkaman, tinggal dua nomor lagi”, katanya sambil bergumam.
Oenni termasuk orang yang pintar dikelas, ia selalu mendapat pujian. Entah kenapa teman oenni sedikit, padahal ia orang yang asyik bagiku, mungkin karena sifatnya terlalu tertutup dan pendiam. Dia juga sering mengajariku dance diwaktu senggang, tapi aku heran, tiap kali oemma dan appa pulang, oenni selalu menyuruhku masuk kamar…apakah karena…ah molla, aku juga tidak tahu mengapa.

“oke! Mau cerita apa chuggy?”, katanya sambil menutup buku.
“ah, aku juga bingung, rasanya aku ingin pindah sekolah~”, kataku manja.
“jangan selalu lari dari masalah, semua orang pasti punya masalah. Oenni berharap besok akan terjadi hal yang mendebarkan, kekeke”, dia menarikku ke atas tempat tidur.
“tapi aku belum ngantuk”, kataku menolak rangkulannya.
Oenni hanya tersenyum sambil menarikku kembali

~             ~           ~

Pagi ini masih malas rasanya membuka mata, aku masih rindu dunia mimpiku… aku suka dunia itu kebanding kehidupan asliku, mimpiku selalu kujadikan inspirasi untuk diriku sendiri. Jam tujuh sudah lewat lima menit yang lalu, aku ingin cepat-cepat hari minggu~ bukan awal sekolah yang bagus.
“Seulhwa~ kalau kau bangun kesiangan, hari ini berarti kau tidak berangkat naik bus bersamaku”, oenni teriak dari dalam kamar mandi.
“ne, aku mau ambil anduk dulu”.
Rasanya bantalku memanggil untuk kembali tidur lagi, jeongmal~ aku tidak semangat hari ini. Apa aku pura-pura sakit? Ah ane, ini baru hari kedua aku disekolah, lucu sekali kalau tidak masuk hanya karena masalah itu.
“ya! Ada apa denganmu? Terlihat…tidak ada gairah”, oenni memukul pundakku pelan.
“ah ane, aku hanya masih ngantuk. Aku mau mandi dulu oenni, chakkamannyeong”.
“ne, hanya limabelas menit, kalau lewat hari ini kau berangkat sekolah dengan ajussi!”, oenni kembali teriak, kini dari luar kamar mandi.

~             ~           ~

Ternyata oenni benar-benar meninggalkanku, ia sudah berangkat naik bus… sedangkan aku harus diantar ajussi. Oemma dan appa sudah lima hari belum pulang, walaupun jarang dirumah, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untukku dan oenni.
Aku hanya diam saat berada didalam mobil, memikirkan apa yang akan terjadi nanti disekolah, oke, sugesti bermain sekarang! Aku harus punya sugesti kalau hari ini tidak aka nada kejadian yang menyebalkan lagi!!
“noona, kita sudah sampai”, ajussi menghentikan mobil.
“ne, gomapta ajussi”, aku turun dari mobil.
Baru kukeluarkan satu kaki ku dari mobil, ada yang menarikku, aku belum sempat melihat wajahnya karena sibuk mengurusi kaki ku yang tersangkut didalam mobil.
“ya! Apa kau tidak lihat kaki ku yang satu masih ada didalam mobil?!”, kataku sedikit memberontak pada orang yang menarikku itu.
“mian, neun…yang kemarin kan??”, kata lelaki itu.
Aku masih mencerna kata-katanya, apa maksudnya ‘yang kemarin’?
“ne??”, kataku sedikit sinis.
“jonen Choi Minho imnida, mianhae…soal yang kemarin, aku dan temanku hanya bermaksud  taruhan, bukan mengganggu”, katanya, memperjelas pembicaraan.
“kenapa minta maaf padaku? Kurasa…lebih baik minta maaf pada Eun Hee dan Kibum, orang yang duduk persis dibelakangmu”, aku langsung melanjutkan jalan kedalam sekolah.
Aku bingung…kenapa dia harus minta maaf padaku?? Padahal kemarin aku yang minta maaf, aneh sekali. Kenapa aku begitu bodoh dalam masalah seperti ini?! Aish, babo!
Aku masuk kelas sedikit ragu, entah mengapa walaupun sudah bersugesti hari ini tidak aka nada apa-apa, tapi kenapa perasaanku tidak tenang ya dari tadi pagi??
“Seulhwa, apa kau sudah mencari Seung Hoo sunbae?”, Jung-Ah tiba-tiba bertanya seperti itu.
“Mworago?”, tanyaku bingung.
“ne! kau bilang Seung Hoo sunbae sekolah disini, pacar Ji Yeon oenni…”, jelasnya.
“oooh~ kau masih ingat rupanya, ne! bagaimana kalau istirahat nanti kita mencarinya?”, tiba-tiba mood ku naik.
“ide bagus Seulhwa, oke!”, kami pun ber toast.
Eun Hee tersenyum sedikit aneh saat melihat kami begini, apa dia tidak senang melihatnya??
Karena ini baru minggu awal masuk sekolah, guru-guru pun baru berkenalan, pelajaran banyak yang belum serius, dan dengan hangat guru-guru menyambut. Dua jam pelajaran hanya dipakai untuk perkenalan, pasti masih banyak sisa jam, biasanya itu kami gunakan untuk berkenalan satu sama lain atau hanya diam ditempat.
Aku tahu Jung-Ah memang gampang bergaul dengan lingkungan baru, tidak seperti aku, dia mulai pindah ke bangku anak yang lain untuk ‘pendekatan’, beruntung hari ini aku membawa komik, daripada bengong melihat anak-anak lain becanda, lebih baik aku membaca komik.
“Seulhwa”, terdengar suara Ki Bum memanggilku.
“ne?”.
“mau ke kantin?”, dia membuka pembicaraan.
“ah, apa kau tidak lihat aku sedang membaca komik? Sendiri saja lah~”, kataku sedikit menghiraukannya.
“tapi… yasudahlah! Minho, Jonghyun, ayo kita ke kantin!”, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kantin bersma dua orang ‘itu’.
Oh iya, Choi Minho...Jonghyun... ah ara, mereka sudah berkenalan rupanya, tapi kenapa aku tidak tahu ya??
“Seulhwa, boleh aku duduk disebelahmu?”, Eun Hee tiba-tiba menghampiriku.
“ne, anjaseyo”.
“bahasamu baku”, katanya santai.
“jeongmal?? Oenni selalu menyuruhku berbicara seperti itu”.
“oooh”.
“wae?”, tanyaku.
“ne?? ah~ aku…sejujurnya aku ingin bertanya, dimatamu Key itu seperti apa?”, dia langsung berbicara straight to the point.
“Ki Bum…”.
“sejujurnya dia senang dipanggil Key, berhentilah berbicara bahasa formal”, ada yang salah dengan Eun Hee, atau dia memang seperti ini.
“Key… sejujurnya aku juga bingung tentangnya. Dia baik, sangat malah… pintar, keren, tapi… entah kenapa aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak”.
“geronde… apa kau tidak punya rasa sama sekali padanya?”.
“ku bilang… aku hanya menganggapnya sebagai kakak, karena dia yang membibing dan melindungiku…mungkin aku kelewatan, tapi… ya memang ini lah adanya. Apa kau suka pada Ki…maksudku Key?”.
“tidak mungkin! Aku ini sahabatnya, malahan… kami satu appa”, aku sedikit terkejut mendengar ucapan Eun Hee, tidak pernah terpikirkan olehku… tapi kenapa Key juga tidak pernah cerita kepadaku??.
“hemn, arasseo~”, aku hanya menganggukkan kepala.
“jadi mana mungkin aku menyukainya…”, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke kelas kami, entah siapa.
“permisi… dimana Minho dan Jonghyun?”, lelaki itu tiba-tiba bertanya.
“ne?!”, Eun Hee menjawab dengan nada melengking. Sepertinya aku tahu siapa yang dibicarakan.
“tadi sepertinya mereka ke kantin”, lanjutku.
“oh, ara ara. Gomawo!”, lelaki itu meninggalkan kelas sambil tersenyum. Sungguh! Manis sekaliiiii, dia juga tidak tanggung-tanggung senyum, baru kali ini aku melihat orang tersenyum tulus seperti itu.
Bel istirahat pun berbunyi, Jung-Ah melambaikan tangannya kepadaku, tandanya menyuruh aku keluar, kami mau mencari Seung Hoo sunbae, kata oenni dia senang duduk sendirian di taman. Dia pacar kakak ku sejak SMP, sayang mereka tidak satu sekolah, oenni sendiri kalau bercerita tentang Seung Hoo sunbae auranya langsung berbeda.
Tapi aku rasa aku melupakan sesuatu… yasudahlah, mungkin itu hanya firasatku. Istirahat kali ini aku inin mejelajah lingkungan dalam sekolah bersama Jung-Ah, sekaligs mencari siapa Seung Hoo sunbae.
“Seulhwa, ayo kita ke taman belakang”, Jung-Ah menarik tanganku.
“Ayo, Eun Hee, apa kau juga mau ikut?”, tanyaku.
“Ane, gomapta... aku akan menunggu Key disini” katanya, sambil mengeluarkan bento-nya.
“Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu”.
“Seulhwa, tidakkah kau merasa Eun Hee itu aneh?”, kata Jung-Ah, berbisik kepadaku.
“aneh??”.
“ne! Anaknya sangat susah didekati, sedikit jutek padahal cantik, sangat tertutup, padahal karisma nya terlihat”, kata Min-Ah serius.
“arasseo Jung-Ah. Dia sudah bilang begitu padaku, memang susah mendekatinya, tapi aku sendiri penasaran padanya.
“ne! Aku juga”, Jung-Ah tersenyum tanpa melihat kedepan, dan...
“awh!”, jeritnya sambil memegan jidatnya, ia menubruk lelaki memakai jas bertuliskan ‘Leader of Students Organization’. Berarti...
“Seung Hoo sunbae...??”, tebakku.
“ne? Kau mengenalku?”, jawabnya.
Omona~ ternyata dia Seung Hoo sunbae, aiiigooooo! Wajahnya bersinar sekali, oenni, pacarmu benar benar menarik perhatian.
“ah, ne! Oenni...oenni...”, otokee, aku sampai bingung harus bicara apa.
“Ji Yeon oenni, kau mengenalnya kan? Dia adiknya”, Jung-Ah langsung berbicara begitu.
“oh~ algetsemnida... senang berkenalan denganmu, apa kau Park Seulhwa?”, lanjutnya.
“ne”.
“Ji Yeon sering bercerita tentangmu...tapi aku harus permisi sekarang, annyeong”, dia menundukkan kepala.
-To Be Cotinued-
◊             ◊           ◊

Rabu, 01 Juni 2011

Love in Love (part III)

Diposting oleh Salwa Seulhwa di 08.15 2 komentar


Aku rasa, aku memang benar benar melupakan sesuatu... tapi apa??
Sekembalinya dari taman (?), aku dan Jung-Ah kembali ke kelas, Key dan kedua teman barunya sudah kembali dari kantin, bersama anak lelaki yang tadi masuk ke kelas ku.
Mereka terlihat sedang bergurau, Eun Hee sendiri terlihat sangat tertanggu dengan kebisingan mereka. Terutama pandangannya tidak berpaling dari anak lelaki yang tadi pagi datang kekelasku. Apakah Eun Hee sudah mengenalnya secara pribadi, atau dia memang memperhatikan lelaki itu?? Senyumannya memang membuat orang ingin melihatnya.

“Seulhwa! Kemarilah, sini berkenalan dengan teman baruku”, Key mengajakku bergabung dengan teman-temannya. Aku hanya senyum sambil membuang pandanganku keluar kelas.
Tiba-tiba ia malah menarikku, dan benar, aku tidak tahu harus berbuat apa... Key! Awas kau nanti.
“a-annyeong, jonen Seulhwa imnida”, kataku sambil menunduk.
“bahasanya formal sekali”, kata anak laki-laki yag tidak aku tahu namanya itu.
“dia memang begitu, sopan bukan??”, lanjut Key.
“ne, sangat malah”, lanjutnya.
“oh ya, aku Onew”, katanya sambil melambaikan tangan dan kembali dengan senyumannya. Aku hanya membalas dengan senyuman dan kembali duduk.
“tunggu, kau belum berkenlan denganku”. Apa maksudnya?? Ini membuatku semakin malu~.
“tapi kan... kau sudah tahu namaku”, lanjutku.
“apa kau sudah tahu namaku?”, omo~ apa orang ini minta dibunuh?
“Jo-Jonghyun kan?”, aku langsung kembali ketempatku. Eun Hee tertawa kecil melihat tingkanhku.
“oh iya! Aku lupa, ini Eun Hee, sahabatku”, Key memandangku, rasanya aku ingin bilang ‘ah ara~ ini caramu mengalihkan perhatian, gomapta!’.
“Joayo”, kata Onew.
“ne??”, aku dan Eun Hee sama-sama terkejut. Aiigo~ di bilang Eun Hee ‘joayo’. Apa maksudnya??.
“Seulhwa, kau tekejut rupanya”, Key mencubit pipiku.
“kekekeke~ apakah perkataanku aneh?”, dengan wajah innocent Onew berkata seperti itu. Wajah Eun Hee berubah menjadi merah, ia melanjutkan membaca buku.
“Seulhwa-ssi!!”, dari luar ada yang teriak memanggil namaku.
Teryata itu Hara oenni dan Suzy oenni. Omo omo omo!! Aku lupa harus bertemu mereka di perpustakaan, mianhae oenni.
“ya! Kami sudah lama menunggumu, kenapa tidak datang juga?”, Suzy oenni masuk kekelas dan menarikku.
“mian, jeongmal mianhae oenni, aku lupa, sama sekali lupa”.
“sebentar lagi bel masuk, ayo kita harus cepat!”, oenni sibuk memperhatikan langkahnya, sementara aku sibuk memperhatikan pandangan Hara oenni, dia melihat ke arah Key dan teman-teman barunya, apakah oenni suka salah satu diantara mereka??
“ya! Hara Goo, apa yang kau lihat? Kita harus cepat!”, Suzy oenni menarik tangan Hara oenni.

Oenni pun memaksa ku untuk menuggu Taemin didepan kelasnya, tadinya memang tidak mau menunggu disini, tapi karena sebentar lagi bel masuk. Pasti Taemin akan masuk kekelas sebentar lagi.
“nah, itu dia!”, aku menunjuk lelaki yang kusebut ‘Lee Taemin’.
Hara oenni menunjukkan wajah serius, sepertinya dia ingin menghapalkan wajah Taemin. Suzy oenni pun terlihat... ‘amazingly’ melihat Taemin.
“oenni, apa ada yang salah?”, tanyaku pada Suzy oenni.
“ah, ane Seulhwa ... tapi sejujrnya, naega...joa”, katanya.
“ne??”.
“aku suka~ wajahnya~ penampilannya~ joa joa joa! Mianhae Seulhwa”, Suzy oenni berkata seperti itu.
Aku hanya terbengong mendengar ucapannya, bagaimana bisa...oenni baru sekali melihat Taemin langsung bicara seperti itu... oenni, aku benar benar  ingin pindah sekolah!!!
“Seulhwa, lebih baik kau ke kelas sekarang, aku akan mengantarmu”, Hara oenni mencoba mengalihkan perhatian.
“ah, tidak usah...aku bisa sendiri, maaf sudah membuat kalian menunggu lama, annyeong~”, aku menundukkan kepala dan lari menuju kelas.
Aku lari tanpa memerhatikan sekitar, babo babo babo!!!!!!!! Baboooooooooooo!!!

Kurasa airmata ku menetes keluar, entah kenapa, aku ingin menghentikannya tapi...kenapa ini terus keluar?? Apa yang harus kutangisi?? Wajar kalau Suzy oenni suka Taemin, itu haknya, tapi... kenapa aku tidak suka kalau dia juga suka pada Taemin??
“Seulhwa?! Wae??”, Key lari menuju tempat dudukku disusul Eun Hee.
“mo-molla molla molla~”, aku menangis terisak.
“Gwencana, jeongmal, gwencana”, Key memelukku kencang, pertanda menyuruhku tenang.
“ada apa dengannya?”, tiba-tiba aku adi pusat perhatian.
“aneyong~ tadi dia terjatuh”, Eun Hee mengalihkan pusat perhatian.
“apa kau melihat’nya’??”, Key tiba-tiba berkata seperti itu.
“n-ne! Tapi...tapi... aku mau ke UKS sekarang~”, entah kenapa mulutku tiba-tia ingin bicara seperti itu.
“ne?? Baiklah, ayo kita ke UKS”, Key memapahku, didampingi Eun Hee. Jung-Ah, mana dia?? Kenapa disaat seperti ini Jung-Ah malah tidak ada??
Entah kenapa badanku lemas... apakah penyakitku kambuh lagi?? Uhh, ini bukan saat yang tepat untuk kambuh.
“wae?”, Eun Hee semakin erat memegangku.
“apakah penyakitmu kambuh Seulhwa??”, Key menghentikan langkahnya.
“aku rasa...”.
Dia tidak lagi mencoba memapahku, tapi menggendongku tepat dipundaknya, setelah itu.... aku benar benar tidak kuat lagi, mataku memaksa untuk tertutup. Key, mianhae merepotkanmu jeongmal aku tidak sanggup.
~             ~           ~
“Seulhwa, gwencana?”, Key berada disebelahku, tahu-tahu aku sudah terbaring lemas di ruang UKS.
“mana Eun Hee?”, tanyaku.
“dia kembali ke kelas, tidak mungkin dua orang menunggu disini…cukup satu, aku juga yakin kalau ada dia belum tentu kau mau cerita padaku”, lanjutnya, sambil mengambilkan segelas teh hangat.
“ini, minumlah”, dia menyguhkanku minum. “malleba”, lanjutnya.
“mwo?”.
“sebenarnya ada apa? Kau tidak mungkin begini kalau bukan karena terkejut oleh sesuatu”, Key langsung to the point bertanya seperti itu, aku tahu…aku pasti tidak akan bisa membohonginya.
“naega… naega… naega…”, entah kenapa aku tidak bias melanjutan kata-kataku.
“BABO!”, balas Key. “ya! Park Seulhwa naneun babo-ya”, Key melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa aku tenang kalau ia bicara begitu. Tiba-tiba aku menggigit bibir bawahku, air mata rasaya sudah tergenang dimataku, badanku semakin lemas, aku…benar-benar tidak bias berkata apa-apa lagi.
“n-e! babo-ya!”…
Dia memelukku hangat, tertengar ia membisikkanku ‘menangislah selagi kau bisa menangis’.  Aku tidak ingin melepaskan pelukannya, aku memang sangat membutuhkan Key… jujur aku memang sayang pada Key tapi tidak sebagai pasangan hidup, maafkan aku.
Suaraku semakin bergetar, aku merasa tangisanku semakin kencang. Aku benar benar tidak kuat~ kenapa manusia diciptakan saling berpasangan dan mempunyai rasa satu sama lain?? Tidakkah ini menyakitkan bagi yang berlawanan rasa?? Kenapa aku harus dipertemukan oleh orang-orang yang selalu membuatku menangis??
Aku mencengkram bahu lelaki itu dengan sangat kencang, aku benar benar tidak kuat!! Semakin kencang kugigit bibir bawahku ini, tidak ingin mengeluarkan suara lepasku saat menangis
Key, mungkin kau memang satu satunya orang yang mengerti ku… mulai sekarang, aku akan mencoba memberikan hatiku untukmu, dan melupakan Taemin. Aish! Padahal baru saja kubilang aku tidak bisa menerimanya sebagai pasangan, segitukah ke-labil-an-ku??
Memang, munkin aku terlalu naif dan egois dalam hal ini, tapi aku harus mencoba, aku tahu aku pasti bisa, di dunia ini bukan hanya Taemin seorang, aku tidak ingin di masa remaja ku yang seperti ini bewarna putih abu-abu, aku harus punya warna lain... aku tidak ingin selalu menjadi aku yang seperti ini.
“Seulhwa?”, tanya Key lembut.
“ne...?”, aku berbalik tanya.
“ah ane, gwencana~”, ia melepaskan pelukannya.
“Ki Bum-ssi”.
“aku senang kau memanggilku Key, berhentilah memanggilku Ki Bum”, katanya, sambil menghapus air matakuu perlahan.
“Key... mianhae”.
“ne?”, ia berhenti mengusap air mataku. “apa aku berbuat sesuatu yang salah?”.
“ane ane! Bukan itu... maksudku, jeongmal mianhae, kau terlalu baik untukku, aku juga belum memberi mu kesempatan lagi semenjak kita putus, maukah...”, aku belum selesai bicara, ia langsung memelukku kembali.
“tolong jangan ucapkan itu, atau aku tidak akan melepasmu... saranghae Seulhwa”, ia mecium telunjuk dan jari tengahnya, lalu diletakkan ke dahiku. Aku benar benar tidak punya tanggapan dan ekspresi.
“Seulhwa?”, ada seseorang masuk ke ruang UKS, dan ternyata...
“Taemin-na? Apa yang kau lakukan disini?”, sapaku.
“ane, aku hanya...ingin mengambil alkohol, teman sekelasku terluka, kau sendiri?”, katanya, sambil sibuk mencari alkohol.
“apa kau tidak lihat? Dia sedang sakit”, jawab Key ketus.
“kau siapa?”.
“dia Key...”.
“aku pacarnya Seulhwa”, Key berkata sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“pacar? Seuhwa kau punya pacar?”, Taemin terdiam sejenak melihat kami berdua, otokkee?? Aku tidak bisa bicara apa-apa.
“otoke? Kau baru mengenalnya dan langsung menerimanya menjadi pacarmu? Apa kau gila?”, Taemin sedikit menggretakku, apa maksudnya?!.
“ya! Siapa bilang kami baru kenal! Aku sudah jauh lebih lama mengenal Seulhwa kebanding dirimu! Kami sudah saling mengenal sejak SD, ayahnya...”,
“apa itu penting bagiku? Memang dia siapa? Temanku saja bukan”, Taemin langsung keluar dan menutup pintu.
Seperti biasa... sifatnya diingin sekali, susah bilang  ‘aku peduli’, aku tidak tahu kemana jalan pikirannya, sedingin itukah dia padaku? Padahal dulu kami teman akrab. Mungkin aku memang benar benar gila bisa menyukai Taemin, sudahlah~ hari ini lebih baik ku akhiri semua.
“Key, mau mengantarku pulang?”, tanyaku lembut.
“sekarang? Tapi satu jam lagi bel pulang, apa kau yakin?”.
“ne, temani aku. Dirumah tidak ada siapa-siapa, oenni pasti akan pulang malam, karena besok oemma dan appa pulang, jadi ia harus belanja”, aku melepaskan selimut dan memakai sepatu.
“memang ommoni kemana?”.
“ada, tapi oenni bilang, appa melarang oenni untuk menyuruh ommoni, aku juga tidak tahu”.
“oh, baiklah. aku akan telepon ajussi, biar dia yang menyetir, aku tidak bawa kendaraan hari ini”, kebetulan Key memang sudah mengenal ajussi.
Aku benar benar beruntung bisa mengenal Key, sungguh orang yang baik. Dia memapahku keluar, Eun Hee ternyata sudah meminta surat izin dari saat aku terbaring di UKS, dia juga orang yang baik walaupun anaknya sedikit aneh ^^,
Tak menunggu terlalu lama, ajussi pun datang, terlihat tergesa-gesa menyetir mobil. Apa dia juga khawatir?
“noona, gwencana? Apa yang terjadi?”, ajussi membukakan pintu belakang.
“ajussi, sakitnya kambuh”, sambung Key sambil memapahku masuk ke mobil.
“ne?? Noona, apa lebih baik kita ke dokter sekarang?”.
“ane! Gwencanayo~ aku hanya butuh istirahat”, ajussi hanya mengangguk, ia tahu kalau aku tidak bisa dipaksa.
Dimobil aku bingung mau bilang apa, mau cerita dengan Key tapi ada ajussi, tapi kalau terus terusan diam begini rasanya aneh.
“Seulhwa, apa kau mau donat?”, Key tiba-tiba membuka pembicaraan seolah bisa membaca pikiranku.
“donat? joayo”, sahutku sambil menatap matanya.
“ajussi, tolong mampir ke bakery sebentar, nanti tolong belikan kami donat”, Key mengeluarkan uang dari kantongnya.
“ne”.
~             ~           ~
Sesampainya dirumah, nafasku menjadi lebih teratur kebanding tadi, bantal kesayanganku sepertinya sudah memanggilku untuk tidur, ingin cepat cepat berbaring dikasur rasanya.
Key ikut bersamaku ke atas, entah dia mau menunggu sampai oenni datang atau hanya sekedar mengantarkan ku.
Tapi kurasa... ia memang benar-benar menunggu sampai oenni datang.
“Key?”, kataku sambil meraih selimut.
“ne?”, ia menggeret bangku tepat disamping tempat tidurku. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.
“haruskah aku tinggalkan kau sendiri disini?”, ia sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
“temani aku sampai oenni datang~”, aku meraih tangannya. Entah kenapa aku benar-benar merasa butuh Key sekarang, aku juga merasa... sekarang aku jauh lebih manja kepadanya.
Ia hanya terenyum lepas, aku membuang pandangannya, aku tidak ingin melihat senyumannya yang tulus itu, biarkan aku tidak melihatnya. Ia kembali duduk dan membuka donat yang tadi dibeli, ia mengambil donat dan mencoba menyuapiku, tapi aku menolaknya.
“aku bisa makan sendiri”.
Ia mengambil satu donat lagi dan membukanya, lalu mulai memakannya bersama denganku. Dia benar benar tahu situasi, disaat aku bingung pasti dia membelikanku donat, disaat aku menangis pasti ia membelikanku coklat, disaat aku senang pasti ia membelikanku es krim. Benar-benar tahu posisiku, belum pernah ada orang yang seperhatian ini padaku, kekekeke.
“apa... kau mau memberikan ku kesempatan sekali lagi?”, katanya tiba-tiba.
“ne?” aku masih mencerna kata-kata nya... oh iya aku ingat ucapanku di UKS tadi, aku tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, maka aku menjawab...”ne!”.
“jeongmal?” ia meletakkan donatnya diatas meja, dan meraih keningku. Aku hanya bisa menutup mata tanpa memberontak, entah kenapa jantungku berdetak kencang dan tanganku tidak bisa bergerak. Mulutku pun serasa terkunci.
Setelah aku tersadar wajahnya begitu dekat denganku, bibirnya menempel di keningku, oemma otokkeeeee???? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!
Saat aku kembali memejamkan mata, bibirnya sudah tidak lagi berada dikeningku.
“Seulhwa, apa kau terkejut?”, katanya sambil tersenyum.
“tentu saja! Oenni tidak pernah melakukan itu padaku... dan kau tiba-tiba...”, huaaaaa aku tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi.
“mencium keningmu? Itu baru kening, bagaimana kalau...”, dia mulai menggodaku.
“aiigooo! Kau itu sebenarnya siapa Kim Ki Bum?? Kau benar-benar sudah membuatku takut!!”, aku menutup wajahku dengan selimut, tidak ingin ia melihat wajahku, pasti merah.
“aegyo~ aegyo~”, ia mengelus-elus rambutku.
-To Be Continued-
◊             ◊           ◊






Sabtu, 21 Mei 2011

-fanfic- LOVE IN LOVE (part 2)

Diposting oleh Salwa Seulhwa di 06.05 1 komentar


Hari ini rasanya kepalaku mau pecah! Kusuruh ommoni membuatkan lemon squash untuk mendinginkan kepalaku ini, aku berharap Ji Yeon eonni cepat pulang. Ingin kuceritakan semua kepenatanku ini.
Dari dalam terdengar suara ribut, kurasa itu oenni dan teman-temannya
“Annyeong! Seulhwa, bagaimana sekolahmu??”, tiba-tiba Suzy, teman oenni memelukku dari belakang.
“Yahhh, begitulah! Melelahkan dan menyedihkan”, jawabku sambil melepas pelukannya.
“Pasti banyak kejadian menarik yaaaa?? Ceritakan kepadaku”, lanjutnya.
“Seulhwa, ini kubawakan sesuatu untukmu”, Ji Yeon oenni mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
“JEONGMAL??!”, kataku sedikit terkejut.
“Ne, itu uang tabunganku selama seminggu, termasuk uang kedua sahabat gilaku ini”, katanya sambil memegang pundakku
“ulang tahunmu minggu lalu...kami belum memberikan apa-apa kan?? Walaupun memang Cuma ini, tapi hargai ya”, kata Hara oenni, sifatnya memang cuek dan blak-blakkan.
“Ne, gomawo gomawo gomawo!!”, kataku sambil menundukkan badan.
“chonmane baby!! Everything for you!!”, Suzy oenni mulai mengeluarkan sifat ‘lebay’ nya.
“Kekeke, jeongmal gomapta!”, aku memeluknya kencang.
“Oke, sebagai balasannya, ceritakan bagaimana dengan sekolahmu yang baru?? Kau jadi adik kelasku sekarang. Kalau ada apa-apa, laporkan saja padaku atau Hara”, katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ne! aku baru ingat, kekeke~ walaupun Ji Yeon oenni tidak satu sekolah denganku, tapi ada kalian”. “Hari ini tidak ada yang special, bahkan hari tersial aku rasa”, lanjutku.
“Memangnya ada kejadian apa?”, Hara oenni terlihat penasaran.
“Mantan pacarku satu sekolah denganku, bertemu dengan dua lelaki aneh, dan…satu sekolah lagi dengan Lee Taemin”, kataku sambil menunduk.
“Jeongmall?? Lalu bagaimana?”, Ji Yeon oenni terlihat kaget.
“Aish, molla oenni~”, kataku sambil mengacak-acak rambut.
“Nggg…aku bisa membantumu, tapi aku harus tahu, yang mana Lee Taemin. Besok istirahat kutunggu di depan perpustakaan. Oke! Sepertinya sudah mulai sore, hari ini aku magang, annyeong~”, setelah melihat jam, Hara oenni meninggalkan kamarku. Tanpa banyak basa-basi langsung meninggalkan kamar.
“Ne, aku juga akan membantumu, bye~!! Hara! Tunggu aku~!!”, Suzy oenni cepat-cepat mengambil tas dan menyusul Hara oenni.
“Sayangnya aku tidak satu sekolah denganmu, beruntunglah kau dan aku mengenal mereka berdua. Aku mau mandi dulu, nanti malam kita cerita-cerita lagi ya”.
~       ~          ~
Sekarang baru pukul Sembilan malam, aku masih belum bisa tidur, mengingat kejadian tadi di sekolah, oenni terlihat masih mengerjakan PR nya,dia berjanji ingin mendengarkan ceritaku setelah ia selesai mandi…ternyata masih harus mengerjakan PR, aku bosaaaan ><
Dddrrrrrtttt! Dddrrrttt! Ponselku bergetar.
Seulhwa, ini aku, Eunhee
Tolong disimpan ya nomorku, kalau ada apa-apa, ceritalah padaku
Annyeong J

Ternyata Eunhee, Ki Bum pasti telah meberikan nomorku padanya…aku senang bisa bertemu orang macam Eunhee ^^,  walaupun terlihat ketus..sama seperti sahabatnya (Ki Bum), tapi dia terlihat baik dan terusterang. Rasanya aku semakin ingin mengenalnya lebih jauh.
Kebetulan aku juga tipe orang yang tidak suka bertele-tele, cocoklah aku dengannya. Langsung straight to the point kalau ada apa-apa.
“Seulhwa, apa kau tidak ada PR?”, kata oenni sambil membolak-balik bukunya.
“Ane, ini hari pertama sekolah oenni. Mana mungkin ada PR”, kataku sambil menyalakan TV.
“Oh iya aku lupa, chakkaman, tinggal dua nomor lagi”, katanya sambil bergumam.
Oenni termasuk orang yang pintar dikelas, ia selalu mendapat pujian. Entah kenapa teman oenni sedikit, padahal ia orang yang asyik bagiku, mungkin karena sifatnya terlalu tertutup dan pendiam. Dia juga sering mengajariku dance diwaktu senggang, tapi aku heran, tiap kali oemma dan appa pulang, oenni selalu menyuruhku masuk kamar…apakah karena…ah molla, aku juga tidak tahu mengapa.

“oke! Mau cerita apa chuggy?”, katanya sambil menutup buku.
“ah, aku juga bingung, rasanya aku ingin pindah sekolah~”, kataku manja.
“jangan selalu lari dari masalah, semua orang pasti punya masalah. Oenni berharap besok akan terjadi hal yang mendebarkan, kekeke”, dia menarikku ke atas tempat tidur.
“tapi aku belum ngantuk”, kataku menolak rangkulannya.
Oenni hanya tersenyum sambil menarikku kembali

~             ~           ~

Pagi ini masih malas rasanya membuka mata, aku masih rindu dunia mimpiku… aku suka dunia itu kebanding kehidupan asliku, mimpiku selalu kujadikan inspirasi untuk diriku sendiri. Jam tujuh sudah lewat lima menit yang lalu, aku ingin cepat-cepat hari minggu~ bukan awal sekolah yang bagus.
“Seulhwa~ kalau kau bangun kesiangan, hari ini berarti kau tidak berangkat naik bus bersamaku”, oenni teriak dari dalam kamar mandi.
“ne, aku mau ambil anduk dulu”.
Rasanya bantalku memanggil untuk kembali tidur lagi, jeongmal~ aku tidak semangat hari ini. Apa aku pura-pura sakit? Ah ane, ini baru hari kedua aku disekolah, lucu sekali kalau tidak masuk hanya karena masalah itu.
“ya! Ada apa denganmu? Terlihat…tidak ada gairah”, oenni memukul pundakku pelan.
“ah ane, aku hanya masih ngantuk. Aku mau mandi dulu oenni, chakkamannyeong”.
“ne, hanya limabelas menit, kalau lewat hari ini kau berangkat sekolah dengan ajussi!”, oenni kembali teriak, kini dari luar kamar mandi.

~             ~           ~

Ternyata oenni benar-benar meninggalkanku, ia sudah berangkat naik bus… sedangkan aku harus diantar ajussi. Oemma dan appa sudah lima hari belum pulang, walaupun jarang dirumah, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untukku dan oenni.
Aku hanya diam saat berada didalam mobil, memikirkan apa yang akan terjadi nanti disekolah, oke, sugesti bermain sekarang! Aku harus punya sugesti kalau hari ini tidak aka nada kejadian yang menyebalkan lagi!!
“noona, kita sudah sampai”, ajussi menghentikan mobil.
“ne, gomapta ajussi”, aku turun dari mobil.
Baru kukeluarkan satu kaki ku dari mobil, ada yang menarikku, aku belum sempat melihat wajahnya karena sibuk mengurusi kaki ku yang tersangkut didalam mobil.
“ya! Apa kau tidak lihat kaki ku yang satu masih ada didalam mobil?!”, kataku sedikit memberontak pada orang yang menarikku itu.
“mian, neun…yang kemarin kan??”, kata lelaki itu.
Aku masih mencerna kata-katanya, apa maksudnya ‘yang kemarin’?
“ne??”, kataku sedikit sinis.
“jonen Choi Minho imnida, mianhae…soal yang kemarin, aku dan temanku hanya bermaksud  taruhan, bukan mengganggu”, katanya, memperjelas pembicaraan.
“kenapa minta maaf padaku? Kurasa…lebih baik minta maaf pada Eun Hee dan Kibum, orang yang duduk persis dibelakangmu”, aku langsung melanjutkan jalan kedalam sekolah.
Aku bingung…kenapa dia harus minta maaf padaku?? Padahal kemarin aku yang minta maaf, aneh sekali. Kenapa aku begitu bodoh dalam masalah seperti ini?! Aish, babo!
Aku masuk kelas sedikit ragu, entah mengapa walaupun sudah bersugesti hari ini tidak aka nada apa-apa, tapi kenapa perasaanku tidak tenang ya dari tadi pagi??
“Seulhwa, apa kau sudah mencari Seung Hoo sunbae?”, Jung-Ah tiba-tiba bertanya seperti itu.
“Mworago?”, tanyaku bingung.
“ne! kau bilang Seung Hoo sunbae sekolah disini, pacar Ji Yeon oenni…”, jelasnya.
“oooh~ kau masih ingat rupanya, ne! bagaimana kalau istirahat nanti kita mencarinya?”, tiba-tiba mood ku naik.
“ide bagus Seulhwa, oke!”, kami pun ber toast.
Eun Hee tersenyum sedikit aneh saat melihat kami begini, apa dia tidak senang melihatnya??
Karena ini baru minggu awal masuk sekolah, guru-guru pun baru berkenalan, pelajaran banyak yang belum serius, dan dengan hangat guru-guru menyambut. Dua jam pelajaran hanya dipakai untuk perkenalan, pasti masih banyak sisa jam, biasanya itu kami gunakan untuk berkenalan satu sama lain atau hanya diam ditempat.
Aku tahu Jung-Ah memang gampang bergaul dengan lingkungan baru, tidak seperti aku, dia mulai pindah ke bangku anak yang lain untuk ‘pendekatan’, beruntung hari ini aku membawa komik, daripada bengong melihat anak-anak lain becanda, lebih baik aku membaca komik.
“Seulhwa”, terdengar suara Ki Bum memanggilku.
“ne?”.
“mau ke kantin?”, dia membuka pembicaraan.
“ah, apa kau tidak lihat aku sedang membaca komik? Sendiri saja lah~”, kataku sedikit menghiraukannya.
“tapi… yasudahlah! Minho, Jonghyun, ayo kita ke kantin!”, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kantin bersma dua orang ‘itu’.
Oh iya, Choi Minho...Jonghyun... ah ara, mereka sudah berkenalan rupanya, tapi kenapa aku tidak tahu ya??
“Seulhwa, boleh aku duduk disebelahmu?”, Eun Hee tiba-tiba menghampiriku.
“ne, anjaseyo”.
“bahasamu baku”, katanya santai.
“jeongmal?? Oenni selalu menyuruhku berbicara seperti itu”.
“oooh”.
“wae?”, tanyaku.
“ne?? ah~ aku…sejujurnya aku ingin bertanya, dimatamu Key itu seperti apa?”, dia langsung berbicara straight to the point.
“Ki Bum…”.
“sejujurnya dia senang dipanggil Key, berhentilah berbicara bahasa formal”, ada yang salah dengan Eun Hee, atau dia memang seperti ini.
“Key… sejujurnya aku juga bingung tentangnya. Dia baik, sangat malah… pintar, keren, tapi… entah kenapa aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak”.
“geronde… apa kau tidak punya rasa sama sekali padanya?”.
“ku bilang… aku hanya menganggapnya sebagai kakak, karena dia yang membibing dan melindungiku…mungkin aku kelewatan, tapi… ya memang ini lah adanya. Apa kau suka pada Ki…maksudku Key?”.
“tidak mungkin! Aku ini sahabatnya, malahan… kami satu appa”, aku sedikit terkejut mendengar ucapan Eun Hee, tidak pernah terpikirkan olehku… tapi kenapa Key juga tidak pernah cerita kepadaku??.
“hemn, arasseo~”, aku hanya menganggukkan kepala.
“jadi mana mungkin aku menyukainya…”, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke kelas kami, entah siapa.
“permisi… dimana Minho dan Jonghyun?”, lelaki itu tiba-tiba bertanya.
“ne?!”, Eun Hee menjawab dengan nada melengking. Sepertinya aku tahu siapa yang dibicarakan.
“tadi sepertinya mereka ke kantin”, lanjutku.
“oh, ara ara. Gomawo!”, lelaki itu meninggalkan kelas sambil tersenyum. Sungguh! Manis sekaliiiii, dia juga tidak tanggung-tanggung senyum, baru kali ini aku melihat orang tersenyum tulus seperti itu.
Bel istirahat pun berbunyi, Jung-Ah melambaikan tangannya kepadaku, tandanya menyuruh aku keluar, kami mau mencari Seung Hoo sunbae, kata oenni dia senang duduk sendirian di taman. Dia pacar kakak ku sejak SMP, sayang mereka tidak satu sekolah, oenni sendiri kalau bercerita tentang Seung Hoo sunbae auranya langsung berbeda.
Tapi aku rasa aku melupakan sesuatu… yasudahlah, mungkin itu hanya firasatku. Istirahat kali ini aku inin mejelajah lingkungan dalam sekolah bersama Jung-Ah, sekaligs mencari siapa Seung Hoo sunbae.
“Seulhwa, ayo kita ke taman belakang”, Jung-Ah menarik tanganku.
“Ayo, Eun Hee, apa kau juga mau ikut?”, tanyaku.
“Ane, gomapta... aku akan menunggu Key disini” katanya, sambil mengeluarkan bento-nya.
“Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu”.
“Seulhwa, tidakkah kau merasa Eun Hee itu aneh?”, kata Jung-Ah, berbisik kepadaku.
“aneh??”.
“ne! Anaknya sangat susah didekati, sedikit jutek padahal cantik, sangat tertutup, padahal karisma nya terlihat”, kata Min-Ah serius.
“arasseo Jung-Ah. Dia sudah bilang begitu padaku, memang susah mendekatinya, tapi aku sendiri penasaran padanya.
“ne! Aku juga”, Jung-Ah tersenyum tanpa melihat kedepan, dan...
“awh!”, jeritnya sambil memegan jidatnya, ia menubruk lelaki memakai jas bertuliskan ‘Leader of Students Organization’. Berarti...
“Seung Hoo sunbae...??”, tebakku.
“ne? Kau mengenalku?”, jawabnya.
Omona~ ternyata dia Seung Hoo sunbae, aiiigooooo! Wajahnya bersinar sekali, oenni, pacarmu benar benar menarik perhatian.
“ah, ne! Oenni...oenni...”, otokee, aku sampai bingung harus bicara apa.
“Ji Yeon oenni, kau mengenalnya kan? Dia adiknya”, Jung-Ah langsung berbicara begitu.
“oh~ algetsemnida... senang berkenalan denganmu, apa kau Park Seulhwa?”, lanjutnya.
“ne”.
“Ji Yeon sering bercerita tentangmu...tapi aku harus permisi sekarang, annyeong”, dia menundukkan kepala.
-To Be Cotinued-
◊             ◊           ◊